KARYA TULIS ILMIAH
APRESIASI SEBAGAI UPAYA MOTIVASI AKTIVITAS LITERASI
DALAM PEMBELAJARAN MENULIS CERPEN
Oleh: Anik Zuroidah, S.Pd.
Abstrak
Untuk menjalankan proses pembelajaran yang bermakna dibutuhkan guru yang mau belajar bersama peserta didiknya. Hal ini sejalan dengan prinsip yang disampaikan KI Hajar Dewantoro,”Ing madya mbangun karsa”. Ini berarti bahwa kehadiran guru di tengah –tengah peserta didik berfungsi sebagai relasi yang bisa membangun motivasi. Hadirnya kebijakan tentang literasi yang didasarkan pada Permendikbud Nomor 23 tahun 2015 tentang Penumbuhan Budi Pekerti sangatlah mendukung dalam memotivasi para siswa utuk berkarya. Demikian halnya dengan Permendikbud No. 22 tahun 2016 tentang Standar Proses Pendidikan Dasar dan Menengah yang menuntut aktivitas literasi dalam pembelajaran. Oleh karena itu perlu ada pembelajaran tentang menulis dengan baik melalui metode yang tepat sehingga potensi dan daya kreativitas siswa dapat tersalurkan. Berdasarkan hal di atas penulis akan membahas beberapa masalah yaitu (1) Bagaimanakah pembelajaran berbasis literasi itu? (2) Bagaimanakah aktivitas literasi dalam pembelajaran menulis Cerpen? (3) Bagaimanakah apresiasi sebagai upaya motivasi aktivitas literasi dalam pembelajaran menulis Cerpen? Berdasarkan rumusan masalah tersebut penulis dapat menentukan tujuan penulisan karya ilmiah ini, yaitu untuk menjelaskan pembelajaran berbasis literasi, aktivitas literasi dalam pembelajaran menulis Cerpen, dan upaya motivasi dalam pembelajaran menulis Cerpen. Konsep dasar pendidikan kritis yang bercirikan hegemoni akhirnya berperan besar dalam solusi masalah peningkatan minat baca, yaitu dengan pemunculan kebijakan pemerintah tentang literasi sekolah telah diwujudkan dalam program nasional GERAKAN LITERASI SEKOLAH (GLS). Bahwa semua lembaga pendidikan dituntut untuk melaksanakan gerakan literasi sekolah dalam berbagai bentuk kegiatan.Termasuk di dalamnya munculnya kurikulum literasi. Kebijakan ini pun memudahkan penulis untuk pembelajaran menulis Cerpen. Adapun aktivitas yang dilakukan ialah melalui tiga tahap, yaitu pembiasaan, pengembangan, dan pembelajaran. Sebuah pembelajaran tidak berhenti hanya sampai usai jam pelajaran. Demikian halnya dengan pembelajaran menulis Cerpen. Penulis memberikan apresiasi kepada peserta didik yang berhasil membuat karya terbaik sebagai motivasi dan teladan kepada para peserta didik yang lain bahwa apresiasi itu sangat penting untuk meningkatkan dan mengembangkan kompetensi. Pembelajaran menulis Cerpen penulis arahkan pada kegiatan yang lebih luas. Pendokumenan ini berlanjut ke arah publikasi.. Kegiatan publikasi bukan hanya di majalah atau media yang lain. Para peserta didik juga diikutkan penulis dalam ajang lomba menulis Cerpen di tingkat yang cakupannya lebih luas. Penulis juga mengapresiasi para peserta didik dengan membukukan hasil karya mereka. Bentuk apresiasi seperti ini ternyata sangat mengesankan mereka. Apalagi apresiasi penulis berupa motivasi bahwa mereka telah melakukan sesuatu yang bermanfaat dengan menulis karya dari pengalaman yang berbeda tetapi penuh makna. Diharapkan semua guru dan pihak terkait bisa memberikan apresiasi positif kepada para siswa sebagai upaya aktivitas literasi. Utamanya dalam pembelajaran menulis Cerpen.
A. Latar Belakang
Untuk menjalankan proses pembelajaran yang bermakna dibutuhkan guru yang mau belajar bersama peserta didiknya (Listiyarti, Retno, 2012;12). Hal ini sejalan dengan prinsip yang disampaikan KI Hajar Dewantoro,”Ing madya mbangun karsa”. Ini berarti bahwa kehadiran guru di tengah –tengah peserta didik berfungsi sebagai relasi yang bisa membangun motivasi.
Selama ini pembelajaran di madrasah masih dominan mengetahui, belum dominan menghasilkan karya, baik tulis maupun karya inovatif (Musfiqon dalam SEMINAR NASIONAL KKG MI, MGMP MTs, dan MA Kemenag Kabupaten Pasuruan, 10 September 2018 ). Hal ini memotivasi penulis untuk memotivasi para siswa dalam mewujudkan sebuah karya yang bisa bermanfaat bagi sesama.
Hadirnya kebijakan tentang literasi yang didasarkan pada Permendikbud Nomor 23 tahun 2015 tentang Penumbuhan Budi Pekerti sangatlah mendukung dalam memotivasi para siswa utuk berkarya. Demikian halnya dengan Permendikbud No. 22 tahun 2016 tentang Standar Proses Pendidikan Dasar dan Menengah yang menuntut aktivitas literasi dalam pembelajaran.
Dalam Bahasa Indonesia, keterampilan berbahasa meliputi empat aspek yang meliputi membaca, menulis, berbicara dan menyimak. Di antara keempat itu yang paling ditakuti siswa adalah aspek menulis. Kegiatan ini merupakan kegiatan penyampaian pesan baik berupa gagasan, perasaan, atau informasi secara tertulis kepada pihak lain. Menulis merupakan salah satu kegiatan yang yang harus dihadapi siswa dalam proses pembelajaran.
Melalui kegiatan menulis, siswa diharapkan dapat menuangkan ide atau gagasan baik secara ilmiah maupun secara imajinatif. Oleh karena itu perlu ada pembelajaran tentang menulis dengan baik melalui metode yang tepat sehingga potensi dan daya kreativitas siswa dapat tersalurkan.
Sudah diketahui bahwa pembelajaran menulis sejak lama sudah dilakukan dengan berbagai metode. Namun sampai sekarang belum ada hasil yang optimal. Karena itu guru sebagai penyampai materi harus bisa menjadi inspirasi bagi siswa. Tentu saja diperlukan solusi untuk memotivasi para siswa untuk bisa melakukan aktivitas literasi. Utamanya dalam pembelajaran menulis Cerpen.
Berdasarkan hal di atas penulis akan membahas beberapa masalah yaitu (1) Bagaimanakah pembelajaran berbasis literasi itu? (2) Bagaimanakah aktivitas literasi dalam pembelajaran menulis Cerpen?(3) Bagaimanakah apresiasi sebagai upaya motivasi aktivitas literasi dalam pembelajaran menulis Cerpen?
Berdasarkan rumusah masalah di atas penulis dapat menentukan tujuan penulisan karya ilmiah ini, yaitu untuk menjelaskan pembelajaran berbasis literasi, aktivitas literasi dalam pembelajaran menulis Cerpen, dan upaya motivasi dalam pembelajaran menulis Cerpen.
B. Pembelajaran Berbasis Literasi
Literasi adalah seperangkat kemampuan dan keterampilan individu dalam membaca, menulis, berbicara, menghitung, dan memecahkan masalah pada tingkat keahlian tertentu yang diperlukan dalam kehidupan sehari-hari (https://gurudigital.id/jenispengertianliterasisekolah/diakses pada hari Senin,1 Oktiber 2018). Dengan kata lain pembelajaran literasi ialah kegiatan pembelajaran yang didasarkan atas kegiatan dalam keterampilan berbahasa dan kegiatan ilmiah.
Sekarang ini istilah literasi sudah mulai digunakan dalam skala yang lebih luas yang tetap merujuk pada makna dasar literasi, yaitu membaca dan menulis. Berkaitan dengan itu ada 9 macam literasi, yaitu, literasi kesehatan, literasi finansial, literasi digital, literasi data, literasi kritikal, literasi visual, literasi teknologi, literasi statistik, dan literasi informasi.
Selain itu kerangka pembelajaran berbasis literasi memiliki ciri adanya budaya ilmiah dan berpikir kritis. Keduanya sangat berkaitan antara satu dengan lainnya. Budaya ilmiah ialah sebuah kegiatan menggali pengetahuan, berdiskusi, menuliskan dan membangun dialog yang memperkaya analisis (Listiyarti, 2012;17).
Hal ini sejalan dengan pengertian bahwa budaya ilmiah ialah metode ilmiah yang merujuk yang merujuk pada teknis investigasi fenomena menyeluruh ilmu pengetahuan serta melakukan komunikasi lisan maupun tulisan (http://lifeshooting.blogspot.com/2013/06/budaya ilmiah.htm?m=1.diakses Jumat, 29 September 2018).
Ada beberapa aktivitas yang menjadi ciri aktivitas literasi, yaitu aktivitas budaya ilmiah dan berpikir kritis. Adapun yang termasuk yang termasuk budaya ilmiah, yaitu budaya membaca, menulis, berdiskusi, aktif dalam forum ilmiah, dan menjadi SCL atau Student Center Learning, yaitu peserta didik berusaha mencari dan mengkonstruksi pengetahuan mampu membangun suasana belajar yang proaktif, kritis, serta mampu mengaplikasikan ilmu pengetahuan dalam dunia nyata.
Adapun tentang berpikir kritis, Conny setiawan berpendapat bahwa berpikir kritis merupakan kegiatan membangun keterampilan fisik dan mental untuk mecari penemuan - penemuan baru (Listiyarti, 2012:18). Dikatakan bahwa ada 14 aspek perilaku yang merupakan indikasi dalam berpikir kritis ini, yaitu mengamati, menghitung, menimbang, mengklasifikasi, mencari hubungan ruang dan materi, membuat hipotesis, merencanakan penelitian/eksperimen, mengendalikan variabel, menginterpretasi, menyusun kesimpulan meramalkan, menerapkan, mengukur, dan mengkomunikasikan.
Hal di atas juga sejalan dengan konsep dasar pendidikan kritis yang memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
1. Hegemoni, yaitu pendominasian tanpa perlawanan. Hal ini tampak pada praktik pendidikan yang sudah dilaksanakan di madrasah, yaitu dengan munculnya kurikulum dan buku pelajaran dan sudah diberikan kepada peserta didik.
2. Dialog, yaitu relasi horisontal yang penuh persahabatan antara guru dan peserta yang dilandasi saling pengertian.
3. Kemerdekaan, yaitu sebuah kebebasan yang diberikan guru kepada peserta didik agar mereka menjadi aktor sosial yang bebas dari belenggu ketidaktahuan
4. Lontar masalah, bahwa seorang guru mampu menyampaikan pertanyaan dengan menyatukan antara teori dan praktik sehingga para siswa mampu melakukan perubahan sesuai teori yang didapatkan (Listiyarti,2012; 20).
Konsep ini sangat berterima dalam pembelajaran literasi. Mengingat bahwa keberhasilan pendidikan berproses karena adanya pemikiran kritis yang mengarah pada kenyataan satunya kata dengan perbuatan. Apalagi dengan adanya perspektif KI hajar Dewantara yang yang menggambarkan relasi yang kuat antara pikir, perasaan, dan tindakan (Listiyarti,2012;26).
C. Aktivitas Literasi dalam Pembelajaran Menulis Cerpen
Sesuai dengan namanya, Cerpen ialah Cerita Pendek. Ukuran panjang pendek fisiknya tidak menjadi hal yang mutlak. (Tarigan,2008:170) mengatakan bahwa panjang cerita pendek kurang lebih sepuluh ribu kata, tiga puluh halaman folio, dibaca dalam waktu 10-30 menit, mempunyai impresi tunggal, seleksi sangat ketat dan kelanjutan cerita sangat cepat. Pendapat tersebut menunjukkan bahwa Cerpen dapat dibaca dalam sekali duduk.
Menurut Nurgiyantoro (2007:10) Cerpen memiliki unsur pembangun seperti tema, tokoh, latar, alur/plot, sudut pandang, gaya bahasa, dan amanat. Adanya unsur pembangun tersebut perlu adanya daya imajinasi. Ini berarti bahwa dalam menulis Cerpen dituntut adanya proses kreatif yang melahirkan pikiran dan perasaan secara ekspresif dan apresiatif.
Mengingat menulis Cerpen membutuhkan ide kreatif. Penulis harus bisa memotivasi para siswa agar bisa mudah untuk mendapatkan ide dalam menulisnya. Ada beberapa tantangan yang ditemui dalam pembelajaran menulis Cerpen.
Yang pertama ialah kurang adanya minat baca. Hal ini merupakan tantangan terbesar bagi penulis. Mengingat membaca merupakan kegiatan dasar dalam menulis. Hal ini berdasarkan pengamatan penulis. Saat memberikan teks Cerpen, anak-anak tidak langsung membacanya, melainkan masih saling berbicara dengan teman-temannya. Bahkan ada yang menawar bahwa membaca sebaiknya dikerjakan secara kelompok. Di wajah mereka justru memperlihatkan adanya beban karena harus membaca.
Tantangan kedua ialah para siswa tidak memiliki semangat dalam belajar. Dalam diri mereka belum ada motivasi diri bahwa dengan belajar mereka bisa meningkatkan kemampuan dirinya dalam menulis. Penulis bisa mengetahui hal ini saat mereka diberi tugas seringkali dibandingkan dengan kelas lain yang belum mendapatkan materi. Ada juga siswa yang langsung memberikan respon dengan kata-kata “sulit” padahal materi belum dijelaskan. Demikian halnya saat usai penjelasan materi, ada juga yang menyampaikan “tidak bisa “.
Tantangan yang ketiga ialah kurang adanya keinginan untuk maju. Ini bisa dilihat saat adanya undangan lomba menulis Cerpen. Penulis seringkali merasa repot karena harus memilih siswa yang berbakat dalam keterampilan menulis.Walaupun poster dan pengumuman sudah tertempel di papan pengumuman. Para siswa kurang menanggapi dengan positif. Untuk itu penulis berusaha menemukan solusinya.
Sebagai guru Bahasa Indonesia penulis berusaha menjajaki seberapa kemampuan para siswa dalam menulis Cerpen ini. Penulis lebih dulu memahami pembelajaran apa yang terkait dengan menulis Cerpen ini. Saat melihat Program Tahunan dan Program semester, penulis baru bisa menentukan materi yang lebih dulu harus diberikan kepada para siswa agar pembelajaran menulis Cerpen ini bisa mudah dipahami.
Kegiatan penulis yang mengacu terhadap program tahunan dan program semester merupakan aktivitas yang mencerminkan konsep pendidikan kritis, yaitu bersifat hegemoni, yaitu pendominasian tanpa perlawanan. Hal ini tampak pada praktik pendidikan yang sudah dilaksanakan di madrasah, yaitu dengan munculnya kurikulum dan buku pelajaran dan sudah diberikan kepada peserta didik. Secara nyata kurikulum saat ini berbasis literasi yang sudah menjadi program pemerintah yang tidak bisa ditawar.
Konsep dasar pendidikan kritis yang bercirikan hegemoni akhirnya berperan besar dalam solusi masalah peningkatan minat baca, yaitu dengan pemunculan kebijakan pemerintah tentang literasi sekolah telah diwujudkan dalam program nasional GERAKAN LITERASI SEKOLAH (GLS). Bahwa semua lembaga pendidikan dituntut untuk melaksanakan gerakan literasi sekolah dalam berbagai bentuk kegiatan ( Musfiqon dalam SEMINAR NASIONAL KKG MI, MGMP MTs, dan MA Kemenag Kabupaten Pasuruan, 10 September 2018 ). Termasuk di dalamnya munculnya kurikulum literasi. Kebijakan ini pun memudahkan penulis untuk pembelajaran menulis Cerpen melalui tahapan dalam mewujudkan literasi di madrasah dapat dilakukan melalui tiga tahap, yaitu pembiasaan, pengembangan, dan pembelajaran.
Pada tahap pembiasaan dimulai dengan menyediakan akses informasi dalam berbagai bentuk untuk menumbuhkembangkan kebiasaan membaca. Pada tahap ini penulis dengan bekerja dengan unsur pimpinan mengaktifkan kebiasaan membaca sebelum pembelajaran. Sementara penulis mengabaikan unsur waktu. Dari kelas ke kelas penulis selalu menanyakan bacaan yang dibaca para peserta didik. Ternyata bahan bacaan yang paling diminati memang Cerpen.
Proses dialog ini juga merupakan proses pendidikan kritis yang juga menjadi ciri dalam pembelajaran berbasis literasi. Dari hasil dialog inilah penulis mendapatkan informasi sehingga mengetahui kesulitan peserta didik dalam mempelajari penulisan Cerpen.
Tahap pengembangan memang harus dilakukan dalam proses pembelajaran menulis Cerpen. Hal ini karena awal dalam pembelajaran menulis adalah membaca. Mengingat pada tahap pengembangan ini peserta didik diajak untuk memahami dan menanggapi buku yang dibacanya. Proses ini sangat mendukung pembelajaran menulis Cerpen.
Pada tahap pengembangan dapat dilakukan dengan meresum dan memberikan tanggapan terhadap sumber informasi yang telah dibaca. Dengan memahami dan menaggapi buku yang dibaca, peserta didik akan memiliki kemampuan berpikir kritis untuk dituangkan dalam tulisan mereka.
Berdasarkan hasil pengembangan yang mereka dapatkan penulis mendapatkan informasi tentang buku pengayaan yang sudah dibaca peserta didik sehingga saat lontar masalah dalam pembelajaran yang sesungguhnya peserta didik akan bisa memahami proses penulisan Cerpen.
Kebermanfaatan pelaksanaan tahap pengembangan ini sangat berpengaruh pada tahap pembelajaran. Hal ini karena pada tahap pembelajaran dilakukan dengan mengaitkan pemahaman terhadap sumber informasi serta menggunakan sumber informasi untuk pembelajaran. Untuk menarik perhatian, penulis memilih teks Cerpen yang isinya menggambarkan kehidupan para siswa. Menurut penulis pembelajaran yang mengawali materi menulis Cerpen ini ialah perlu adanya pemahaman terhadap wacana sastra. Untuk itu diperlukan kegiatan membaca yang lebih banyak.
Langkah pertama, penulis mengajak para siswa untuk membaca teks Cerpen yang sudah diperbanyak oleh penulis sesuai jumlah siswa di dalam kelas. Tentu saja membacanya sambil memahami unsur intrinsiknya. Teks Cerpen yang disiapkan oleh penulis merupakan sebuah teks informasi yang menjadi sumber pembelajaran. Apabila hal ini dikaitkan dengan tahapan literasi di madrasah, sudah mencerminkan pelaksanaan tahap pembelajaran.
Dalam kegiatan ini, penulis harus membimbing para siswa. Caranya, penulis membatasi waktu baca. Terlihat bahwa siswa yang memiliki kemampuan baca bagus terlihat lebih dulu selesai daripada teman yang lain. Aktivitas pertama ini sudah menunjukkan aktivitas budaya ilmiah, yaitu membaca, sebagai ciri aktivitas literasi berupa pemahaman informasi untuk memperkaya pengetahuan.
Berikutnya, Siswa membuat analisa cerita beserta ringkasan cerita. Kegiatan ini mencerminkan aktivitas budaya ilmiah berupa kegiatan menulis. Kegiatan ini mencerminkan aktivitas menginterpretasi sebuah teks yang juga membutuhkan proses berpikir kritis.
Setelah peserta didik usai membuat laporan, Guru memberikan kesempatan kepada peserta didik yang lebih dulu selesai segera maju untuk melaporkan hasil bacanya. Demikian seterusnya hingga disusul oleh teman-teman yang lain.
Setelah semua dapat giliran, penulis pasti mengetahui siswa yang harus dibimbing ulang. Penulis akan mengadakan pembimbingan teman sejawat. Siswa yang mampu melaporkan dengan baik ditugasi penulis untuk membimbing temannya. Caranya,siswa yang dipercaya mendampingi ulang kegiatan membaca siswa yang belum mampu melaporkan hasil bacanya.
Kegiatan pembimbingan teman sejawat merupakan bentuk budaya ilmiah berupa SCL (Student Center Learning), yaitu bahwa peserta didik berusaha membangun suasana belajar yang proaktif untuk membahas pengetahuan bersama peserta didik lainnya. Dalam kegiatan ini muncul aktivitas berpikir kritis berupa kegiatan menyusun kesimpulan supaya peserta didik lain bisa memahami konsep penulisan Cerpen.
Hasil kegiatan pembimbingan teman sejawat ini ialah bahwa siswa yang kurang bisa akhirnya sama-sama bisa. Walaupun dengan waktu yang lebih lambat.Saat pendampingan teman sejawat ini tentu saja penulis tetap membimbing para siswa. Ternyata langkah awal ini bisa berjalan dengan baik. Bahkan di antara para siswa tumbuh emosional positif. Semakin ada ikatan perasaan saling membutuhkan antarteman untuk saling berbagi pengetahuan.
Langkah kedua ialah penulis mengajak siswa untuk menuliskan kembali Cerpen yang sudah dibaca. Sementara masih Cerpen yang memiliki tema sama. Pada kegiatan ini penulis mengadakan rangkaian langkah sama dengan pada saat proses pertama. Hasilnya, semua siswa mengerjakan juga. Kegiatan ini juga sebagai implementasi dari aktivitas literasi dalam budaya menulis dan berpikir kritis untuk kegiatan mengkomunikasikan dalam bentuk tulisan.
Saatnya langkah ketiga, penulis mengajak siswa ke perpustakaan untuk memilih Cerpen dan membacanya. Ini langkah yang lebih menantang karena penulis harus membimbing siswa untuk melakukan hal yang seolah-olah memaksa mereka.
Usai membaca Cerpen, para siswa penulis anjurkan untuk melaporkan hasil bacaan mereka melalui laporan membaca secara tertulis juga. Benarlah adanya. Dari sini terlihat perbedaan antara siswa yang punya talenta dan yang tidak. Dari sinilah penulis memulai langkah praktis untuk melatih mereka.
Langkah ketiga di atas semakin menampakkan adanya aktivitas literasi. Bahwa di situ ada kegiatan literasi informasi, aktivitas membaca, dan aktivitas menulis. Siswa yang memiliki minat besar dalam menulis begitu bersemangat dan antusias untuk memberikan hasil kreatifnya untuk disunting.
Proses penyuntingan awalnya dilakukan antarsiswa melalui kegiatan diskusi antar peserta didik yang diformulasi dengan lontar masalah dari guru sebagai bentuk pendampingan agar siswa bisa menyatukan antara teori penulisan Cerpen dengan hasil praktik yang sudah didapatkan.
Tahap penyuntingan ini merupakan kegiatan berpikir kritis karena terdapat proses mengamati dan menerapkan teori terhadap masalah kebahasaan tentang hasil menuliskan kembali sebuah karya Cerpen yang dibaca. Dalam kegiatan ini tampak sekali adanya aktivitas budaya berdiskusi. Guru memberikan kesempatan kepada salah satu peserta didik sebagai SCL (Student Center Learning) untuk mempresentasikan analisa Cerpen yang dibuatnya. Sementara peserta didik lain menyampaikan pendapat untuk menanggapi.
Kegiatan itu memunculkan suasana ilmiah yaitu tampak pada saat presentator berusaha menjawab pertanyaan peserta lain. Aktivitas itu juga disertai kegiatan lontar masalah. dalam hal ini penulis melontarkan masalah yang berkaitan dengan isi Cerpen. Hal ini dilakukan penulis untuk menghidupkan suasana supaya para peserta didik semakin paham tentang keterkaitan antara teori dengan praktik dalam pembelajaran Cerpen.
Rangkaian tahap pembiasaan dan pengembangan dalam literasi di madrasah ternyata sangat erat hubungannya dengan tahap pembelajaran. Keterkaitan yang dimunculkan dalam aktivitas literasi ini sangat mendukung keberhasilan dalam pembelajaran penulisan Cerpen.
Penulis berkeyakinan bahwa para peserta didik sudah memahami konsep Cerpen pada tahap pemahaman teks isi Cerpen, struktur teks, dan unsur kebahasaannya. Saatnya pada tahap inti yaitu tahap penulisan Cerpen.
Dengan berbekal dari proses tahap pembiasaan baca dan pengembangan baca, penulis memastikan bahwa para peserta didik sudah mampu mengikuti pembelajaran menulis Cerpen. Motivasi dalam beliterasi tetap penulis sampaikan kepada peserta didik untuk terus dibiasakan dan dikembangkan. Karena itu proses reseptif harus terus diasah untuk mencapai proses aktif.
Adapun dalam pembelajaran inti menulis Cerpen, penulis tetap mengacu pada referensi tentang materi penulisan, yang diawali dengan menulis Cerpen berdasarkan pengalaman. Tentu saja penulis tetap mengarahkan para peserta didik melalui kegiatan membaca untuk memahami langkah-langkah dalam menulis Cerpen ini.
Dalam materi dikatakan bahwa ada beberapa langkah dalam menulis Cerpen yaitu; membangun cerita, mengawali menulis Cerpen, menulis paragraf awal, membangun karakter tokoh, membangun konflik, dan mengakhiri cerita (Firmansyah, 2018;39).
Para peserta didik diarahkan oleh penulis untuk mengikuti langkah-langkah yang sudah terurai jelas dalam materi tersebut. Tentu saja untuk memahaminya mereka harus melakukan kegiatan membaca materi tersebut. Kegiatan ini kembali mencerminkan sebuah aktivitas literasi dalam pembelajaran.
Untuk memahami langkah dalam membangun cerita, penulis melakukan aktivitas berupa dialog, yaitu relasi horisontal yang penuh persahabatan antara guru dan peserta didik yang dilandasi saling pengertian. Hal ini dilakukan penulis dengan mendengar ungkapan para peserta didik tentang cerita yang akan ditulis oleh peserta didik dengan memperhatikan unsur intrinsik yang saling berkesinambungan. Diharapkan dengan konsep pendekatan kritis ini peserta didik bisa beripikir kritis untuk mengembangkan pengalamnnya sebagai bahan dalam menulis Cerpen. Ternyata masing-masing peserta didik sudah memiliki ide atau bahan cerita sesuai pengalaman yang didapatkan selama ini.
Dalam mengawali menulis Cerpen, penulis memberikan motivasi untuk menumbuhkan kreativitas peserta didik dalam mengembangkan idenya. Hal ini dilakukan dengan memberikan alternatif paling mudah, misalnya memngingatkan peserta didik terhadap Cerpen-cerpen yang sudah mereka baca. Hal ini sebagai bentuk upaya menumbuhkan aktivitas berpikir kritis tentang kegiatan menginterpretasi terhadap karya orang lain yang sudah dibaca dan menindaklanjuti sebagai kegiatan menerapkan teori yang sudah didapatkan.
Untuk menulis paragraf awal, penulis melakukan aktivitas lontar masalah, yaitu menyampaikan pertanyaan yang bisa menggugah ide para peserta didik untuk mengaitkan teori yang didapatkan denga menyatukannya pada kenyataan dalam menulius Cerpen tentang pengalaman hidupnya. Langkah ini dilakukan dengan menyertakan masalah atau konflik yang dialami masing-masing peserta didik dengan menghadirkan unsur intrinsik Cerpen yang bisa mendukung cerita.
Dalam membangun karakter tokoh, penulis memberikan kemerdekaan individu dalam mengembangkan ceirta sesuai pengalaman masing-masing. Hal ini dilakukan agar cerita bisa hidup. Tentu saja penulis mengingatkan para peserta untuk menghayati karakter tokoh yang diangkat dalam cerita tersebut.
Dalam pengembangan konflik juga demikian. Penulis mengingatkan para peserta didik untuk membuka memori mereka tentang cerpen-cerpen yang sudah mereka baca sehingga mereka bisa menemukan gaya bahasa yang menarik dalam mengembangkan idenya tentang konflik yang dialami para tokoh cerita. Termasuk dalam penentuan jenis konflik. Apakah konflik batin, fisik, ataukah ide.
Setelah keenam langkah dalam menulis Cerpen yang bersumber pada pengalaman pribadi di atas sudah dilakukan. Penulis mengarahakan para peserta didik untuk menyunting masing-masing tulisannya sesuai konsep materi penulisan Cerpen. apakah sudah sesuai dari segi struktur teks, kebahasaan, kepaduan, kesatuan, dan gaya bahasa.
Setelah proses ini, pada tahap berikutnya penulis mengajak para peserta untuk mempresentasikan karya Cerpen yang dihasilkan mereka. Setiap peserta didik diberi kesempatan menguraikan isi Cerpen yang ditulisnya. Siswa lain menyimak lalu memberikan tanggapan kepada peresentator.
Tahapan ini merupakan sebuah aktivitas literasi informasi. Bahwa setiap peserta didik mampu memanfaatkan informasi yang didapatkan dari peserta didik lain. Adapun penyampaian tanggapan berupa pertanyaan, kritik dan saran kepada presentator memberikan gambaran adanya litetasi kritikal, sebuah kegiatan menganalisis teks secara lisan. Pada saat kegiatan ini juga ada kegiatan berpikir kritis yaitu menginterpretasi dan mengkomunikasikan sebuah informasi tentang penilaian hasil karya Cerpen.
Usai presentasi, penulis dan para peserta didik menyimpulkan hasil pembelajaran menulis Cerpen yang sudah dilakukan. Sebagai bahan pemantapan, penulis kemblai melakukan dialog perenungan tentang manfaat dalam pembelajaran menulis Cerpen yanbg diawali dari pengalaman pribadi. Dengan konsep dasar pendidikan kritis ini disepakati bahwa pembelajaran menulis Cerpen merupakan aktivitas literasi yang bersifat reseptif dan aktif. Artinya bahwa kemampuan menulis Cerpen akan mudah dilakukan apabila peserta didik rajin membaca sehingga bisa menuangkan ide melalui cerita yang didapatkan dari pengalaman.
D. Apresiasi sebagai Upaya Motivasi dalam Pembelajaran Menulis Cerpen
Sebuah pembelajaran tidak berhenti hanya sampai usai jam pelajaran. Demikian halnya dengan pembelajaran menulis Cerpen. Setelah penulis beserta para peserta didik menyimpulkan tentang akitivitas belajar yang didapatkan hari itu. Penulis tidak berhenti sampai di situ.
Penulis memberikan apresiasi kepada peserta didik yang berhasil membuat karya terbaik. Penulis memberikan hadiah berupa buku dan mengucapakan selamat sebagai motivasi. Hal ini merupakan bentuk apresiasi atau penghargaan kepada mereka agar mampu berkarya lebih baik. Kegiatan ini juga memberikan teladan kepada para peserta didik yang lain bahwa apresiasi itu sangat penting untuk meningkatkan dan mengembangkan kompetensi.
Selanjutnya karya para peserta didik ini penulis dokumenkan di perpustakaan madrasah. Kegiatan ini juga merupakan sebuah kegiatan literasi, yaitu sebagai upaya untuk menjadikan sesuatu sebagai sumber data pengetahuan. Pendokumenan ini merupakan rangkaian aktivitas literasi, yaitu sebagai sumber informasi yang bermanfaat bagi orang lain.
Tidak berhenti sampai di sini. Pembelajaran menulis Cerpen penulis arahkan pada kegiatan yang lebih luas. Pendokumenan ini berlanjut ke arah publikasi. Selain mengabadikan di perpustakaan madrasah, penulis juga mengirimkan karya terbaik di antara para peserta didik di majalah. Proses ini memang membutuhkan kesabaran. Namun hal ini merupakan upaya yang bisa menjadi motivasi para peserta didik untuk mengembangkan keterampilan menulis Cerpen sebagai kegiatan yang manfaatnya lebih luas.
Lebih jauh lagi penulis juga mengikutkan para peserta didik dalam lomba penulisan Cerpen yang dalam momen tertentu. Keikutsertaan ini juga sebagai apresiasi bahwa mereka layak untuk bersaing dengan peserta didik lain dalam lingkup yang lebih luas. Proses aktivitas literasi yang sangat panjang ternyata membuahkan hasil. Dari peserta yang ikut hanya diambil juara satu dan dua. Prediksi penulis benar adanya bahwa peserta didik yang karya Cerpennya sudah sering dipublikasikan di madrasah ternyata bisa menghasilkan karya yang bisa ditampilkan dalam ajang kejuaraan.
Kegiatan publikasi bukan hanya di majalah atau media yang lain. Penulis juga mengapresiasi para peserta didik dengan membukukan hasil karya mereka. Bentuk apresiasi seperti ini ternyata sangat mengesankan mereka. Apalagi apresiasi penulis berupa motivasi bahwa mereka telah melakukan sesuatu yang bermanfaat dengan menulis karya dari pengalaman yang berbeda tetapi penuh makna.
E. Simpulan
Pembelajaran berbasis literasi ialah sebuah pembelajaran yang didasarkan pada seperangkat kemampuan dan keterampilan individu dalam membaca, menulis, berbicara, menghitung, dan memecahkan masalah pada tingkat keahlian tertentu yang diperlukan dalam kegiatan kehidupan sehari-hari.
Aktivitas literasi dalam pembelajaran menulis Cerpen didasarkan pada konsep dasar pendidikan kritis, utamanya yang bercirikan hegemoni, yaitu pendominasian tanpa perlawanan. Hal ini ditandai dengan dengan munculnya kurikulum berbasis literasi yang didasarkan pada kebijakan pemerintah tentang literasi sekolah telah diwujudkan dalam program nasional GERAKAN LITERASI SEKOLAH (GLS). Semua lembaga pendidikan dituntut untuk melaksanakan gerakan literasi sekolah dalam berbagai bentuk kegiatan. Penguatan budaya membaca, menulis dan berkarya menjadi materi utama dalam program literasi sekolah tersebut.
Apresiasi sebagai upaya motivasi aktivitas literasi dalam pembelajaran menulis Cerpen dilakukan dengan beberapa cara. Di antaranya dengan memberikan hadiah kepada mereka disertai ucapan selamat, mendokumenkan karya peserta didik di perpustakaan madrasah, mengirimkan karya di majalah, mengikutkan para peserta didik dalam lomba penulisan Cerpen dalam momen tertentu, dan mempublikasikan karya mereka dalam bentuk buku sebagai wujud karya nyata yang bermakna.
Harapan kepada kepala madrasah, guru dan pihak terkait agar bisa memberikan dukungan moral supaya aktivitas literasi madrasah berjalan sesuai harapan. Apabila Gerakan Literasi Madrasah sudah terlaksana sesuai tahap yang diharapkan, tentu saja motivasi berupa apresiasi positif kepada para siswa dalam berliterasi perlu ditingkatkan agar bisa menghasilkan karya besar di kelak kemudian hari.
DAFTAR PUSTAKA
http: gurudigital.id/jenis, pengertian literasiadalah/diakses pada hari Senin, 1 Oktober
2018.
http: lifeshooting.blogspot.com./2013/06. Budaya Ilmiah.html?=1diakses pada Jumat,
29 September 2018.
Listyarti, Retno.2012. Pendidikan Karakter dalam Metode Aktif, Inovatif dan
Kreatif.Jakarta: Esensi.
Musfiqon. dalam SEMINAR NASIONAL KKG MI, MGMP MTs, dan MA Kemenag Kabupaten
Pasuruan, 10 September 2018 ).
Nurgiyantoro, Burhan. 2007. Teori Pengkajian Fiksi. Jogjakarta: Gadjah Mada University.
Rosidah, Faiqotur.2017.Move On Dong, Jangan Baper. Malang. MNC.
Tarigan, Henry Guntur. 2008.Membaca Sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa. Bandung: Angkasa
======================================================================
*)Artikel ini telah memenangkan lomvba menulis artikel ilmiah bagi Guru Tingkat Nasional pada tahun 2017 di Nizamia Learning Center
DOKUMENTASI SAAT PEMBAGIAN TROPI



Posting Komentar untuk "KARYA TULIS ILMIAH"