Tangga-Tangga Menuju
Sejarah Ratu Kalinyamat
Oleh: Anik Zuroidah
Sebagian orang meninggalkan bangunan. Sebagian meninggalkan karya. Namun ada pula yang meninggalkan jejak perjuangan yang tetap bercahaya meski ratusan tahun telah berlalu.
Hari ini, saat jemari saya mulai menata kembali kenangan perjalanan ke Jepara, yang hadir bukan hanya gambaran sebuah makam tua di lereng tangga dan rindangnya pepohonan. Yang hadir justru sosok seorang perempuan yang keberaniannya pernah menggetarkan Nusantara: Ratu Kalinyamat.
Perjumpaan itu terjadi pada 25 Oktober 2025, selepas saya mengikuti Haul ke-33 K.H.M. Arwani Amin di Kudus bersama rombongan LMY Kabupaten Mojokerto Korcam Kemlagi. Sebuah perjalanan yang semula saya kira hanya akan menjadi catatan ziarah biasa, ternyata menjelma menjadi ruang perenungan tentang arti keberanian, pengabdian, dan kekuatan seorang perempuan dalam menorehkan sejarah.
Perjalanan menuju makam Ratu Kalinyamat bermula dari sebuah perjalanan ruhani. Saya bersama rombongan LMY Kabupaten Mojokerto Korcam Kemlagi mengikuti rangkaian Haul ke-33 K.H.M. Arwani Amin, seorang ulama besar yang dikenal luas sebagai ahli Al-Qur'an dan pendidik umat. Rombongan kami berada di bawah bimbingan K.H. Hafidz Muslich dari Pondok Pesantren Mambaul Quran Bancang, Mojokerto.
Selepas mengikuti haul yang berlangsung khidmat dan penuh keberkahan itu, perjalanan kami berlanjut menuju Jepara. Salah satu agenda yang telah disiapkan adalah berziarah ke makam Ratu Kalinyamat. Nama itu tentu tidak asing di telinga saya. Namun, seperti banyak orang lainnya, saya lebih mengenalnya dari lembar-lembar buku sejarah daripada dari kisah yang benar-benar saya hayati.
Sesampainya di kompleks makam, rombongan Korcam Kemlagi yang dipimpin Ustaz Sholihin segera bersiap memasuki area ziarah. Kawasan itu tampak ramai oleh para peziarah dari berbagai daerah. Udara siang terasa sejuk berkat rindangnya pepohonan yang menaungi kompleks makam.
Untuk mencapai lokasi makam, kami harus menaiki sejumlah anak tangga. Saya tidak menghitung berapa jumlahnya. Namun setiap pijakan terasa membawa saya semakin dekat kepada sebuah nama besar yang selama ini hanya saya kenal dari catatan sejarah.
Di kanan dan kiri jalan, deretan makam tampak berjajar rapi. Beberapa peziarah berjalan perlahan sambil melafalkan doa. Suasana yang hening dan teduh itu menghadirkan kesadaran bahwa setiap manusia pada akhirnya akan kembali kepada Sang Pencipta. Yang tertinggal hanyalah amal, karya, dan jejak kebaikan yang diwariskan kepada generasi sesudahnya.
Perjalanan kecil itu membawa kami melewati sebuah masjid yang berdiri kokoh di dalam kompleks. Dari sana kami berbelok ke arah kanan. Ternyata makam Ratu Kalinyamat berada tepat di sisi kanan masjid. Sederhana, tetapi menghadirkan kesan teduh dan penuh kewibawaan. Di tempat itulah kami berhenti.
Dengan dipimpin Ustaz Sholihin, rombongan membaca tahlil dan doa bersama. Lantunan kalimat-kalimat tauhid bergema lembut di antara para peziarah. Sebagian jamaah memejamkan mata, sebagian lainnya menundukkan kepala dengan khusyuk.
Di hadapan makam seorang perempuan yang hidup lebih dari empat abad silam, saya merenung. Betapa waktu dapat memisahkan manusia dari zamannya, tetapi tidak pernah mampu menghapus jejak pengabdian yang ditinggalkannya.
Usai membaca tahlil, kami melaksanakan salat berjamaah di masjid kompleks makam. Setelah itu, rasa ingin tahu membawa saya menuju museum yang berada di sisi kiri masjid. Bangunannya tidak terlalu besar, tetapi menyimpan banyak informasi berharga tentang sosok yang sedang kami ziarahi.
Di dalam museum tersimpan berbagai dokumentasi, foto, replika, dan penjelasan sejarah mengenai Ratu Kalinyamat. Saya membaca satu demi satu informasi yang terpajang di dinding. Semakin banyak membaca, semakin besar pula kekaguman saya kepada sosok perempuan yang pernah memimpin Jepara pada abad ke-16 tersebut.
Ratu Kalinyamat bukan sekadar seorang berdarah biru. Ia dikenal sebagai pemimpin yang tangguh, cerdas, dan memiliki keberanian luar biasa. Dalam berbagai catatan sejarah, ia berhasil menjadikan Jepara sebagai kekuatan maritim yang disegani. Bahkan armada laut yang dipimpinnya pernah melakukan ekspedisi besar melawan Portugis di Malaka. Keberanian dan kepemimpinannya membuat namanya dikenal tidak hanya di Nusantara, tetapi juga dalam catatan bangsa-bangsa asing.
Di tengah aktivitas membaca berbagai dokumentasi itu, perhatian saya tertuju pada informasi mengenai penghargaan yang diberikan negara kepada beliau. Setelah melalui perjuangan panjang berbagai kalangan masyarakat, budayawan, dan sejarawan, Ratu Kalinyamat akhirnya dianugerahi Gelar Pahlawan Nasional berdasarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 115/TK/Tahun 2023 yang ditandatangani Presiden Joko Widodo. Penganugerahan tersebut diumumkan bertepatan dengan peringatan Hari Pahlawan tahun 2023.
Bagi saya, penghargaan itu bukan sekadar pengakuan negara terhadap seorang tokoh sejarah. Lebih dari itu, penghargaan tersebut menjadi penegasan bahwa bangsa ini tidak melupakan jasa putra-putri terbaiknya, termasuk seorang perempuan yang telah menunjukkan keberanian luar biasa dalam memperjuangkan kehormatan negerinya.
Membaca kisah perjuangannya, saya merasa seolah sedang berhadapan dengan sosok perempuan yang melampaui zamannya. Ia hidup pada masa ketika kepemimpinan perempuan belum banyak mendapat ruang, tetapi mampu membuktikan bahwa keberanian, kecerdasan, dan keteguhan dapat mengantarkan seorang perempuan menjadi tokoh besar dalam sejarah.
Sore mulai turun ketika kami bersiap meninggalkan kompleks makam. Namun ada sesuatu yang terasa berbeda saat menuruni anak-anak tangga yang tadi kami naiki. Saya datang dengan pengetahuan yang terbatas tentang Ratu Kalinyamat, tetapi pulang dengan rasa hormat dan kekaguman yang jauh lebih besar.
Ziarah ini bukan sekadar perjalanan menuju sebuah makam. Ia adalah perjalanan menelusuri jejak perjuangan, keberanian, dan pengabdian. Dari haul seorang ulama besar di Kudus hingga makam seorang ratu pejuang di Jepara, saya belajar bahwa sejarah bangsa ini dibangun oleh orang-orang yang mengabdikan hidupnya demi kemaslahatan umat dan negeri.
Yang paling membekas bagi saya adalah kenyataan bahwa perjuangan tidak mengenal jenis kelamin. Ratu Kalinyamat telah membuktikannya berabad-abad lalu. Sebagai seorang perempuan, saya merasa sangat terinspirasi oleh keteguhan dan keberaniannya. Beliau mengajarkan bahwa perempuan tidak harus meninggalkan fitrahnya untuk memberikan kontribusi besar kepada masyarakat dan bangsa. Justru dari fitrahnya sebagai perempuan lahir kekuatan, kepedulian, kebijaksanaan, dan semangat pengabdian.
Perempuan mungkin tidak selalu mengangkat senjata atau memimpin armada perang. Namun perempuan dapat berjuang melalui ilmu, pendidikan, dakwah, karya, keluarga, dan pengabdian yang tulus. Sebagai guru dan pegiat literasi, saya merasakan bahwa ruang perjuangan itu selalu terbuka bagi siapa saja yang ingin memberi manfaat. Setiap zaman memiliki medan juangnya masing-masing.
Ketika bus yang kami tumpangi perlahan meninggalkan Jepara sore itu, saya membawa pulang lebih dari sekadar kenangan perjalanan. Saya membawa pulang inspirasi. Inspirasi dari seorang perempuan hebat yang namanya tetap hidup dalam sejarah karena keberanian, keteguhan, dan pengabdiannya.
Ratu Kalinyamat telah menunjukkan bahwa perempuan mampu menorehkan jejak perjuangan yang besar tanpa kehilangan jati dirinya sebagai perempuan. Dan mungkin, itulah warisan paling berharga yang masih dapat kita pelajari hingga hari ini.


Posting Komentar untuk " "