Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

MERASA PULANG


MERASA PULANG

Oleh: Anida*)

Langit sore itu seperti sedang belajar sabar. Matahari mulai meredup dan pulang menuju  peraduan sambil memberikan senyum dan menutup tirai kemerahan. Angin berdesir pelan, membawa aroma tanah dan daun kamboja yang jatuh satu per satu seperti tasbih yang terlepas dari hitungannya. Ramadan tinggal menghitung hari. Setiap kali bulan suci mendekat, rindu selalu terdengar lebih nyaring, seolah hati diajak membuka kembali pintu-pintu kenangan yang lama tertutup. Aku berlutut di samping pusara ayah, merapikan kerikil kecil yang tak pernah benar-benar rapi. Jemariku menyentuh tanah yang masih menyimpan sisa hangat matahari, terasa seperti menyentuh jejak pelukan yang tak pernah benar-benar hilang.

“Pak, aku datang lagi,”suaraku lirih, larut bersama angin yang berembus pelan seperti doa yang mencari arah pulang.Aku menaburkan bunga, membiarkan kelopaknya jatuh perlahan seperti harapan yang dilepaskan dengan hati-hati.Hari-hari menjelang Ramadan memang selalu membuat rindu terasa lebih hidup, seolah waktu ikut melambat agar kenangan bisa berjalan berdampingan dengan langkahku. Aku duduk lebih lama dari biasanya, membiarkan pikiranku kembali ke dapur kecil dengan lampu redup, ke suara sendok beradu piring, ke tawa ayah yang selalu terasa hangat.

“Masih ingat, Pak?” Dulu kalau aku masak nasi goreng terlalu pedas, Bapak tetap bilang enak…”Senyum kecilku retak, tapi hangat itu tetap tinggal di dada. Benih kenyamanan prlahan tumbuh di sanubari.. Aku pulang dengan hati penuh kenangan, lalu tertidur dengan rindu yang masih  menggantung seperti bulan kecil yang setia menjaga ingatan. Bau bawang goreng memenuhi udara, hangat dan akrab seperti pelukan yang tertunda.

Aku menoleh. Waktu seakan berhenti. Ayah berdiri di sana. Kemeja sederhananya, tatapan teduhnya, senyumnya, semuanya utuh seperti tak pernah disentuh jarak dan kematian.

“Pak, ”Suaraku pecah. Aku berlari dan bersimpuh, mencium tangannya. Hangat. Nyata. Seolah semua rindu menemukan rumahnya dalam satu detik. “Aku kangen sekali…”Ayah menepuk kepalaku pelan.“Bapak juga.”Di atas meja, sepiring nasi goreng mengepul. Asapnya naik perlahan seperti do’a yang tahu arah pulang. Ayah mengambil  piring itu dan memberikannya  kepadaku.“Makan dulu.”Aku terdiam. Dulu beliau selalu meminta nasi goreng pedas buatanku, kini justru beliau yang menyodorkannya dengan senyum yang begitu lembut seolah waktu yang berbalik arah.“Ayah yang masak?”Ayah tersenyum tipis.“Ayo dimakan, nanti dingin.”Aku menyendok perlahan. Hangatnya merambat ke dada seperti cahaya yang masuk ke ruang paling sunyi. Air mataku jatuh tanpa suara. Aku makan sampai habis, sementara ayah memandang dengan mata yang penuh kasih.

“Pak, aku takut.”“Takut apa?”“Aku takut tidak bisa memenuhi harapan Bapak.”Ayah tertawa kecil. Sebuah  tawa yang selalu terasa seperti rumah yang lampunya tak pernah padam.“Kamu tidak perlu jadi apa-apa untuk membuat Bapak bangga.”Aku terdiam.“Bapak sudah bangga sejak kamu berusaha.”Kalimat itu jatuh pelan, membuka pintu yang lama terkunci. Ruangan terasa hangat, seolah waktu berhenti hanya untuk memastikan kata-kata itu sampai ke hatiku tanpa sisa. Perlahan semuanya memudar seperti kabut yang kembali ke langit.

Aku terbangun. Subuh baru saja datang, cahaya tipis masuk melalui jendela seperti harapan yang lahir pelan-pelan. Di dada masih terasa hangat, seperti ada api kecil yang menolak padam. Aku membuka laci lama. Piagam kosong dengan namaku dan NIP tulisan tangan ayah masih tersimpan rapi. Dulu terasa seperti beban. Kini terasa seperti pelukan. Aku mengusapnya perlahan.“Pak, ternyata yang Bapak beri bukan harapan tapi kekuatan.”Sejak mimpi itu, aku tidak lagi memandang rindu sebagai kehilangan. Ia berubah menjadi hangat yang diam-diam menjaga hatiku dari dingin.

Ramadan pun tiba seperti tamu lama yang selalu membawa cahaya ke sudut-sudut jiwa. Dalam setiap doa yang kupanjatkan, ada satu nama yang selalu kusebut dengan penuh syukur. Aku kembali ke makam ayah di suatu sore yang tenang. Angin berdesir lembut, dan langit tampak lapang seperti dada yang akhirnya belajar ikhlas. Aku duduk di samping pusara, tersenyum kecil.“Pak, sekarang aku mengerti.”Tak ada lagi suara yang bergetar.“Hidup ternyata bukan tentang memenuhi harapan, tapi tentang menjaga hangat yang Bapak tinggalkan.”Angin berembus pelan, seolah membawa jawabannya. Di kejauhan, azan   Magrib mulai berkumandang. Suaranya mengalir lembut seperti pelukan yang turun dari langit. Aku menutup mata sejenak, membiarkan damai memenuhi ruang dalam dada.

Saat itu aku tahu. Cinta seorang ayah tidak pernah benar-benar pergi.Ia tinggal dalam doa-doa yang dipanjatkan dengan rindu. Dalam langkah yang diterangi kenangan .Dalam hati yang belajar kuat karena pernah dicintai begitu dalam. Di ujung Ramadan itu, aku tidak lagi merasa kehilangan. Aku merasa pulang.

 

Bionarasi Penulis

Anida adalah nama pena Anik Zuroidah. Nama aslinya Anik Zuroidah, S.Pd., M.Pd. adalah guru Bahasa Indonesia di MTsN 5 Jombang. Lahir di Mojokerto, 28 Oktober 1974, ia aktif menulis sebagai bentuk ikhtiar menebar kebaikan melalui literasi. Telah menerbitkan beberapa buku solo dan karyanya kerap mengangkat tema pendidikan, keluarga, dan nilai spiritual dengan gaya reflektif dan humanis. Cerpen ini lahir dari pengalaman batin tentang rindu, doa, dan keyakinan bahwa cinta orang tua tidak pernah benar-benar pergi. Ramadan menjadi ruang sunyi untuk memahami bahwa hangat kenangan dapat menjadi kekuatan dalam menjalani hidup dengan lebih ikhlas dan penuh syukur.

 

29 komentar untuk "MERASA PULANG"

  1. Tema cerpen ini tentang rindu kepada ayah yang sudah meninggal dan belajar ikhlas di bulan Ramadan. Pesan yang saya dapat adalah cinta orang tua tidak pernah hilang dan kita tidak perlu jadi sempurna untuk membuat mereka bangga. Latar tempatnya di makam ayah dan dapur masa kecil yang digambarkan sangat detail sehingga suasananya terasa syahdu. Menurut saya cerpen ini bagus karena bahasanya puitis, emosinya kena, dan amanatnya dalam. Saya kasih nilai 9/10 karena sangat menginspirasi.

    BalasHapus
  2. Tema cerpen ini tentang rindunya seorang anak kepada sang ayahanda yang sudah meninggal dunia dan belajar merasa ikhlas dibulan suci Ramadhan.pesan yang saya dapat dari cerpen ini ialah rindu seorang anak yang kehilangan cinta pertamanya yakni ayahnya, cinta orang tua tidak benar" hilang melainkan beliau tinggal dalam doa-doa yang kita panjatkan dengan ikhlas pasrah dan rindu. Latar tempat yakni dimakamkan ayah dan di dapur masa kecil penuh dengan kenangan. Alhamdulillah, syukron jazakallah khairan semoga kita semua dalam lindungan ALLAH SWT. sayaa kasih nilai 💯% karna sangat mudah untuk dipahami dan sangat menginspirasi

    BalasHapus
  3. Tema cerpen ini tentang keikhlasan seorang anak atas kepergian ayahnya di bulan Ramadhan. Pesan yang saya dapat adalah hidup bukan tentang memenuhi ekspektasi orang lain, tapi tentang menjaga kasih sayang yang ditinggalkan. Latar tempatnya dapur dan makam ayah yang bikin suasananya terasa sedih tapi tenang. Menurut saya cerpen ini keren karena bahasanya menyentuh hati dan emosinya bener-bener kerasa sampai bikin terharu. Saya kasih nilai 9.5/10 karena ceritanya nyesek tapi bikin hati adem, dan juga bikin kita ingat kalau kenangan paling berharga itu sering datang dari hal-hal sederhana.

    BalasHapus
  4. Tema cerpen ini tentang kasih sayang seorang ayah yang tetap hidup dalam kenangan dan do'a anak nya, pesan yang saya dapat adalah cinta orang tua tidak pernah hilang walaupun mereka sudah meninggal, selain itu hidup bukan tentang memenuhi semua harapan orang lain melainkan menghargai kasih sayang dan perjuangan yang telah di berikan. Latar tempatnya di makam ayah dan rumah/dapur kecil penuh kenangan. Menurut saya cerpen ini memiliki alur cerita yang sederhana,tetapi emosinya kuat.akhir cerita juga memberikan kesan damai dan penuh harapan. Saya kasih nilai 9/10 karena alur ceritanya berhasil menyampaikan emosi,pesan moral dan suasana dengan sangat baik sehingga mudah menyentuh hati pembaca

    BalasHapus
  5. Tema:pengarang ini kangen sama ayahnya saat menjelang ramadhan dan belajar iklas. Pesannya:cinta seorang ayah tidak pernah hilang. Latar tempat:di makam ayah dan teringat disaat2 bersama ayah memasak di dapur. Menurut saya cerpen ini sangat menyentuh hati dan menggunakan bahasa kiasanya bagus sekali serta gambaranya sangat nyata sehingga persis seperti yang di alami oleh anak2 yatim. Maka saya beri nilai 9/10 dan Terima kasih sangat menginpirasi.

    BalasHapus
  6. Tema cerpen ini tentang rindu kepada ayah yang sudah meninggal dan belajar ikhlas di bulan Ramadan. Pesan yang saya dapat adalah cinta orang tua tidak pernah hilang dan kita tidak perlu jadi sempurna untuk membuat mereka bangga. Latar tempatnya di makam ayah dan dapur masa kecil yang digambarkan sangat detail sehingga suasananya terasa syahdu. Menurut saya cerpen ini bagus karena bahasanya puitis, emosinya kena, dan amanatnya dalam. Saya kasih nilai 8.5/10 karena sangat menginspirasi

    BalasHapus
  7. tema cerpen ini tentang kerinduan seorang anak terhadap ayah yang telah tiada pesan yang saya dapat dari cerpen yaitu rindu tak perlu disikapi dengan kesedihan yang mendalam melainkan dijadikan sebagai pengingat untuk terus berbuat baik dan berdoa latar tempat dapur dan makam menurut saya cerpen ini sangat bagus karena alur konflik mengalir dengan baik dan pemilihan kata yang begitu baik saya kasih nilai 9,7/10 karena ceritanya menarik dan berhasil menyajikan kisah tentang a
    nak dan ayah

    BalasHapus
  8. tema cerpen ini menggambarkan betapa dalamnya rindu seorang anak kepada ayahnya yang sudah tiada, terutama saat bulan Ramadan tiba. Gaya bahasanya puitis dan mengalir lembut, membuat kita ikut merasakan hangatnya kenangan serta ketulusan cinta orang tua yang tak pernah hilang. Kalimat 'ayah bangga sejak kamu berusaha' menjadi pengingat bahwa kasih sayang mereka selalu menjadi kekuatan terbesar. Saya kasih nilai 9/10 karena bacaan yang indah dan penuh makna

    BalasHapus
  9. tema cerpen tersebut adalah Kerinduan Dan Keikhlasan. Kasih sayang orang tua, terutama ayah, bersifat abadi dan tidak akan pernah benar-benar hilang meski raga telah tiada. Pengarang ingin menyampaikan bahwa cara terbaik mencintai mereka yang sudah pergi adalah dengan mengikhlaskan dan terus mengirimkan doa. Latar tempat :
    1.Makam Ayah: Tempat tokoh utama merenung dan menabur bunga.Rumah (dalam mimpi/ingatan)
    2.Khususnya di dapur kecil tempat Ayah memasak nasi goreng
    3.Kamar Tokoh Utama: Saat ia terbangun dari mimpinya di waktu Subuh.
    Latar waktu :
    1.Sore hari menjelang Ramadan: Saat tokoh utama mengunjungi makam.
    2.Malam hari (dalam mimpi): Saat suasana terasa akrab dan hangat.
    3.Waktu Subuh: Saat tokoh utama terbangun dan menyadari realita.
    4.Waktu Magrib: Di akhir cerita saat azan berkumandang.
    saya memberi nilai cerpen tersebut 100, karena Cerpen ini sangat kuat dalam pembangunan suasana (mood). Pengarang menggunakan diksi yang puitis namun tetap mudah dipahami, sehingga pembaca bisa merasakan kehangatan sekaligus kesedihan yang dialami tokoh. Alurnya yang melompat antara realita dan mimpi/kenangan tertata dengan rapi (alur campuran), sehingga transisinya tidak membingungkan. Pesan moralnya tersampaikan secara halus tanpa terkesan menggurui.Pesan yang bisa dipetik adalah bahwa kehilangan bukan berarti akhir dari segalanya. Rasa sedih itu manusiawi, namun kita tidak boleh larut di dalamnya. Sosok yang kita cintai akan selalu "hidup" selama kita menjaga nilai-nilai kebaikan yang mereka ajarkan dan tetap mendoakan mereka. Kehangatan keluarga adalah bekal terkuat untuk menghadapi dinginnya dunia.

    BalasHapus
  10. Nama: Athayafi Sharussafaro
    Saya memilih membahas pesan pengarang. Menurut saya, cerpen ini menyampaikan bahwa kasih sayang orang tua, khususnya ayah, tidak pernah benar-benar hilang walaupun telah tiada. Pesan yang paling terasa adalah tentang keikhlasan dan bagaimana kenangan bisa menjadi kekuatan untuk melanjutkan hidup. Hal ini terlihat dari tokoh “aku” yang awalnya merasa kehilangan, namun akhirnya mampu menerima dan menemukan ketenangan. Cerpen ini sangat menyentuh karena menggunakan bahasa yang sederhana tetapi penuh makna.saya kasih nilai 9/10 karena penuh makna

    BalasHapus

  11. Cerpen "Merasa Pulang" benar-benar berhasil menggambarkan tema kerinduan mendalam seorang anak kepada ayah yang sudah wafat melalui latar waktu menjelang sampai ujung Ramadan dan latar tempat di pusara, dapur kecil, serta kamar dengan detail aroma tanah, daun kamboja seperti tasbih, asap nasi goreng yang naik seperti doa, dan suara azan Magrib yang bikin suasana terasa nyata, ditambah pesan pengarang yang sangat kuat tentang cinta orang tua yang tidak pernah putus lewat kalimat "Kamu tidak perlu jadi apa-apa untuk membuat Bapak bangga, Bapak sudah bangga sejak kamu berusaha" dan "Hidup bukan tentang memenuhi harapan, tapi menjaga hangat yang Bapak tinggalkan" sehingga konflik batin tokoh dari rasa kehilangan berubah jadi ikhlas dan merasa pulang, makanya cerpen ini sangat menyentuh, bahasanya puitis tapi nggak berlebihan

    BalasHapus
  12. Menurut saya tema cerpen ini adalah kasih sayang orang tua yang tidak pernah berubah.Alasanya,tokoh Ayah tetap menyambut anaknya dengan hangat lewat sepiring nasi goreng, bahkan peran yang biasanya anak masakin untuk ayah sekarang di Bali. Itu bukti cinta ayah nggak kenal waktu.

    BalasHapus
  13. cerpen ini membahas tentang seorang anak yang rindu kepada ayahnya saat menjelang Ramadhan, dia di tinggalkan oleh ayah nya tapi dia tidak pernah sedih karena cinta orang tua tidak bisa pergi begitu saja kenangan yang sudah berlalu bisa menjadi semagat untuk kembali hidup. Latar tempat makam dan dapur. Menurut saya cerpen ini sangat bagus dan saya kasih nilai 10/10 karena alur nya mengalir dengan baik

    BalasHapus
  14. Tema cerpen ini menceritakan tentang seorang gadis yang merindukan ayahnya yang telah tiada menjelang bulan Suci Ramadan.

    Saya sangat sependapat dengan pesan yang ingin disampaikan penulis: Kasih sayang seorang Ayah tidak akan pernah hilang meski raganya telah berpisah. Kita tetap bisa "Pulang" dan bertemu lewat doa serta kenangan indah. Cerita ini mengajarkan kita untuk berikhlas dan menjaga kebaikan peninggalan orang terkasih. Gaya bahasanya sangat lembut dan menyentuh kalbu.

    Penilaian: ⭐⭐⭐⭐⭐ (Sangat Baik - Menggugah Perasaan)

    BalasHapus
  15. Cerpen ini sangat bagus karena mampu menyampaikan rasa rindu kepada ayah dengan bahasa yang puitis dan menyentuh hati. Suasana Ramadan, makam ayah, dan kenangan tentang nasi goreng membuat cerita terasa hidup dan emosional. Pesan yang saya dapatkan adalah bahwa cinta seorang ayah tidak pernah hilang, melainkan selalu hidup dalam doa, kenangan, dan semangat yang ditinggalkan kepada anaknya

    BalasHapus
  16. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  17. Tema cerpen ini sangat menyentuh, yaitu tentang doa yang mengalir untuk ayah yang telah tiada dan kerinduan mendalam pada bulan suci Ramadhan. Pengarang berhasil menggambarkan rasa rindu yang tidak pernah putus lewat doa, sehingga pembaca ikut merasakan hangat sekaligus haru. Cerpennya bagus karena emosinya terasa tulus dan relatable bagi siapa pun yang pernah kehilangan orang tua. Dan cerpen ini berhasil mengingat masa masa hangat bersama ayahnya yang telah tiada terutama bagi anak perempuan yang kehilangan cinta pertamanya yaitu seorang ayah.
    Penilaian saya terhadap cerita ini yaitu 9,5 / 10 karena alurnya sangat rapi dan sangat mudah dipahami

    BalasHapus
  18. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  19. Tema cerpen ini bahas tentang seorang anak yang berziarah ke makam ayahnya menjelang Ramadhan.
    Pesan yang aku dapat dari cerita tersebut adalah kita tidak harus selalu ngejar harapan orang lain, yang penting kita rawat cinta yang udah dikasih sama mereka.
    Latar Tempatnya di makam ayah dan di dapur rumah, jadinya berasa sedih tapi adem.
    Menurutku ceritanya sangat bagus karena kata-katanya dalem dan bikin mewek,mudah untuk difahami dan apalagi pas bagian mimpinya.
    Aku kasih 9.5/10 karena walau sedih, endingnya malah bikin lega dan ngingetin kalau rindu itu gak harus sakit terus.

    BalasHapus
  20. Tema cerpen ini menceritakan tentang seorang anak yang datang ke makam ayahnya menjelang bulan Ramadhan untuk melepas rasa rindunya.
    Pesan yang bisa diambil dari cerita tersebut adalah kita tidak perlu memaksakan diri menjadi sempurna demi ekspektasi orang lain, karena kasih sayang tulus dari keluarga jauh lebih berarti.
    Latar tempatnya ada di area pemakaman dan suasana rumah, terutama di dapur, sehingga nuansanya terasa haru tetapi tetap hangat dan menenangkan.
    Menurutku ceritanya sangat menyentuh karena pemilihan katanya sederhana namun penuh makna, jadi emosi pembacanya benar-benar terasa, apalagi saat bagian mimpi itu muncul.
    Aku kasih nilai 9/10 karena walaupun alurnya sedih, akhir ceritanya justru memberi rasa tenang dan membuat kita sadar kalau rindu bisa dikenang dengan ikhlas.

    BalasHapus
  21. Cerita ini tentang anak yang kangen ayahnya, terus datang ke makamnya pas mau puasa. Pesan yang aku dapat: kita gak usah terlalu mikirin omongan orang lain, yang penting kita jaga sayang yang udah dikasih orang tua. Tempatnya di kuburan sama dapur, jadi suasananya sedih tapi bikin hati tenang. Menurutku ceritanya bagus karena bahasanya gampang dimengerti dan bikin nangis, apalagi pas dia mimpi ketemu ayahnya. Aku kasih nilai 9/10 karena ceritanya sedih tapi endingnya bikin lega. Bikin sadar kalau kangen itu gak harus bikin sakit terus.

    BalasHapus
  22. Rapi, utuh, tempo & emosinya selaras sama tema Ramadan + rindu. Plot twist-nya bukan di kejadian, tapi di perubahan makna. Itu yang bikin dalem.

    BalasHapus
  23. Puisi tersebut mengajarkan bahwa kehilangan orang yang dicintai bukan berarti cinta itu ikut pergi. Sosok ayah dalam cerita tetap hidup melalui kenangan, doa, dan nasihat yang terus menguatkan hati anaknya. Rasa rindu yang awalnya penuh kesedihan perlahan berubah menjadi sumber kekuatan untuk menjalani hidup dengan lebih ikhlas dan penuh syukur. Puisi ini juga menyampaikan bahwa orang tua tidak selalu menuntut anak menjadi sempurna, melainkan bangga atas setiap perjuangan dan usaha yang dilakukan. Kehadiran Ramadan semakin memperdalam makna tentang keluarga, kasih sayang, dan ketenangan hati, hingga akhirnya tokoh dalam cerita menyadari bahwa cinta sejati akan selalu menjadi tempat pulang, meski seseorang telah tiada.

    BalasHapus
  24. tema cerpen ini menggambarkan betapa dalamnya rindu seorang anak kepada ayahnya yang sudah tiada, pada saat bulan Ramadan tiba. Gaya bahasanya puitis dan mudah di pahami,membuat kita seolah merasakan hangatnya kenangan serta ketulusan cinta orang tua yang tak pernah hilang. menjadi pengingat bahwa kasih sayang mereka selalu menjadi kekuatan terbesar. Saya kasih nilai 9/10 karena indah dan bermakna

    BalasHapus
  25. Cerpen ini menceritakan tentang rindu seorang anak kepada ayahnya yang sudah tiada dan ramadhan menjadi momen berdamai atas kehilangan.
    pesan yang saya dapat adalah kematian bukan akhir dari segalanya dan meraka selalu ada di sisi kita melalui doa dan nasihat yang pernah di beri. hidup bukan soal memenuhi harapan ayah, tapi menjaga kasih sayang yang ia tinggalkan. dari kerinduhan kita belajar kuat dan ikhlas atas hidup ini,tapi kadang beberapa manusia akan berbohong jika ditanya soal ikhlas.
    latar tempat ada di pemakaman ayah dan di dapur.
    saya memberikan nilai 9/10 untuk cerita ini karena sangat mendalami dalam penyampaian pesan dalam setiap barisnya membuat pembaca ikut terbawa suasanan,yang awalnya sedih bisa menjadi bahagia dari kekuatan dan rasa ikhlas dalam kehilangan sosok ayah.

    BalasHapus
  26. Tema cerpen ini tentang kerinduan seorang anak kepada sang ayah yang sudah meninggal dunia dan belajar sabar dan ikhlas di bulan ramadhan. Pesan yg saya dapat ialah rindu seorang anak kepada ayah nya dan seakan terasa masih ada bersamanya. Latar tempat nya di dapur masa kecil yang penuh kenangan bersama. Menurut saya pilihan katanya bagus dan menyentuh hati cerpen ini saya kasih nilai 9/10 karena sangat bagus dalam penyampaian ceritanya

    BalasHapus
  27. tema cerpen ini tentang Cinta orang tua tidak pernah benar-benar hilang meskipun mereka telah tiada; cinta itu tetap hidup dalam doa dan kenangan Langit sore itu seperti sedang belajar sabar," "Matahari... memberikan senyum," dan "Angin berdesir pelan, membawa doa yang mencari arah pulang Penggunaan kata "pulang" tidak hanya berarti kembali ke rumah fisik, tetapi kembali ke ketenangan batin dan penerimaan diri.menceritakan perjalanan batin seorang anak yang merindukan ayahnya menjelang bulan Ramadan.suatu sore yang tenang di pemakaman, seorang anak merasa sangat merindukan ayahnya, terutama saat suasana Ramadan mendekat. Ia mengenang masa lalu saat memasak untuk ayahnya.

    BalasHapus
  28. Tema cerpen ini seorang anak yang begitu rindu dengan ayah nya yang meninggal dan ia belajar ikhlas di bulan ramadhan.
    Pesan saya kasih sayang ortu tak kan pernah terganti.Latar tempat makam ayah,dapur/rumah. Menurut saya cerpen ini sangat bagus dan bahasanya mudah dipahami saya beri rating 9,5/10 bahwasannya ayah ialah orang terkuat

    BalasHapus