Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Catatan Harian Seorang Guru (2)

Catatan Harian Seorang Guru (2) Hari ini, Sabtu, 11 November 2017 aku mengajar materi menulis puisi di kelas 8 F. Pembelajaran saintifik sudah aku terapkan hingga fase eksplorasi.Sambil menunggu para siswa.bekerja menulis puisi aku mengamati satu per satu dari siswa putri. Entahlah aku tidak bisa menghilangkan kebiasaanku untuk mengamati kedisiplinan siswa dalam berbusana.Selalu saja kukomentari dan kunasihati para siswa yang terbukti tidak disiplin dalam berbusana. Demikian pula saat ini.Ternyata kutemukan 4 siswi yang tidak memakai ikat penutup kepala atau istilahnya iket kalau dalam bahasa Jawa. Aku pun memanggil nama mereka.Ya....ada Kiki, Eno, Walida, dan Anindya. Aku tidak menghukum mereka. Aku hanya ingin mereka disiplin berbusana seperti siswi yang lain. Kutemukan cara memberi sanksi yang bermuatan karakter. Karena saat ini pembelajaran puisi, aku pun menugasi mereka membuat puisi bebas. Mereka pun membuat puisi dengan serius. Sementara siswa yg lain aku izinkan untuk istirahat karena memang waktunya istirahat. Satu per satu dari keempat siswi itu pun sudah selesai membuat puisi.Diawali Eno menghadap saya. Aku tidak sekadar menerima begitu saja lampiran puisi hasil karyanya.Kuminta dia membacakannya di hadapanku. IBU ENGKAULAH PELITA DALAM KEHIDUPANKU YANG SELALU MENYINARI DIRIKU MAAFKAN AKU IBU AKU..... ....Belum selesai ia baca puisi....Kedua matanya berkaca-kaca....dan meneteslah air matanya... "Maafkan saya Bu,"katanya.Saya takkan mengulangi kesalahan saya. Aku hanya tersenyum,"Iya,Ibu maafkan.Kamu mau mengubah diri jd siswa patuh kan?" Iya,Bu,"jawabnya sambil tersenyum. Selamat ya, kamu sudah berkarya dan ini bukti kamu bahwa kamu anak baik.Anak yang selalu ingat kebaikan ibu di mana pun berada. Kuhapus airmatanya dan kupersilakan dia beristirahat dengan teman-temannya. Untuk ketiga temannya tidak kusuruh baca puisi karena mereka terlihat menikmati juga puisi yang dibaca temannya. Namun dari aura wajah keempat siswa itu kulihat wajah penyesalan."Untuk kalian bertiga, ibu sudah bisa membaca bahwa kalian punya perasaan sama dengan Eno.Perasaan seorang anak yang menyesal karena telah mengecewakan ibu."Begitukah?"Aku menghakimi... "Iya.Maafkan saya, Bu,"jawab mereka bersamaan. Aku pun menerima uluran tangan mereka dengan rasa haru dan sayang.Semoga kalian bisa Ibu percaya...ujar lubuk hatiku.

Posting Komentar untuk "Catatan Harian Seorang Guru (2)"