PUISI
AKSARA DI PAGI PANCASILA
Buah karya Anida
Pagi itu
langit Juni menyimpan gema Indonesia Raya
Merah putih masih berkibar di pelupuk mata
Langkah-langkah kecil kami
Usai khidmat upacara
Tak ada firasat
Tak ada tanda
Hanya sebuah aksara
Diam-diam singgah di lembaran
Begitu rupawan
Membuat dada berdebaran
Sabar menunggu penantian
tentang kata-kata mendalam
Akan menyatu dalam satu pikiran
Aku menerawang saat awal perjalanan Bahwa sunyi yang kurawat lewat tulisan
Akan mengetuk pintu senyuman
Menulis bagiku hanyalah cara
Menitipkan rasa pada kata
Menyusun letih menjadi makna
Menyandarkan harap
pada lembar-lembar bersayap
Pagi itu
Ada bisik langit
Pelan, mengejutkan
Penuh kehangatan
Kabarkan kebahagiaan
Tanpa kesendirian
Di madrasah ini
Ada kisah-kisah yang menemukan pelukannya
Ada renungan yang menjelma cahaya
Ada bait-bait yang tumbuh
Menjadi suara paling jernih
Empat langkah yang berbeda
Bertemu di jalan yang sama
Jalan sunyi bernama literasi
Hening menumbuhkan bangga
Di Madrasah tercinta
Betapa indah hari itu
Aksara tak lagi sekadar dibaca
Tetapi dipeluk penuh harga
Dirasa, ditebar dalam amalan
Sang maha guru
Telah membuka ruang
Bagi mimpi-mimpi menyentuh
Untuk menemukan langit yang teduh
Untuk MTsN 5 Jombang
Jejak kecil ini kami persembahkan
Untuk Indonesia tercinta
Semoga aksara tak pernah kehilangan nyala
Karena negeri besar
Dibangun oleh pikiran yang hidup
Ditata oleh hati yang mencerna
Salam literasi
dari pagi yang semula biasa saja
Kini berubah luar biasa
ketika sebuah surat
mengetuk hati selepas upacara
Keboan City, 2 Juni 2026




Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapusApresiasi yang sangat mendalam. Terima kasih.
HapusTeroma kasih atas pendapat yang sangat memotivasi.
BalasHapusmenurut saya karya Puisi ini bertema Literasi, Pendidikan, dan Cinta Tanah Air. Karya ini mengekspresikan rasa syukur dan kebanggaan seorang pelajar terhadap proses belajar di madrasah, di mana kecintaan menulis dan membaca aksara menjadi jalan untuk mempersembahkan karya terbaik bagi sekolah dan bangsa.
BalasHapuspuisi ini sangat menyentuh dan inspiratif. Penulis berhasil menggambarkan bagaimana kegiatan literasi di madrasah bukan sekadar membaca atau menulis, melainkan sebuah perjalanan emosional untuk menemukan makna dan harapan. Penggunaan diksi seperti "jalan sunyi bernama literasi" memberikan kesan yang mendalam tentang dedikasi dalam belajar dan berkarya.
BalasHapusLuar biasa! 👏 Puisi ini tak hanya rangkaian kata yang indah, tapi juga jiwa yang tulus. Menceritakan perjalanan sederhana yang berubah menjadi sesuatu yang bermakna lewat budaya literasi, terikat erat dengan cinta pada madrasah dan tanah air. Sangat menginspirasi, membuktikan bahwa menulis adalah cara terbaik untuk menanamkan kebaikan dan mewujudkan mimpi. Sukses selalu untuk MTsN 5 Jombang dan penulisnya!
BalasHapusWah pusi nya sangat bagus. Puisi mengambarkan perjalanan literasi yang tidak mudah untuk di gapai kita harus besunguh sunguh dengan belajar literasi, tetap semangat untuk membuat literasi. Salam literasi semua👆
BalasHapusWahhh puisi nya agak panjang ya... Bu😅 tapi sangat menyentuh hati dan kata nya sangat rapi dari yang saya amati
BalasHapusTema dari puisi tersebut adalah Literasi ngubah pagi biasa jadi luar biasa. Nasionalisme + syukur ke guru/MTsN 5 Jombang.
Vibes nyatulus, khidmat, tapi tetap hangat. Kontras "sunyi" vs "bangga" bikin dalem.
Intinya: Puisi tulus tentang kekuatan kata. Rapi, nyampe, dan pas buat dipersembahkan ke madrasah 🤗
Puisi "Aksara di Pagi Pancasila" ini sangat indah dan menginspirasi. Pesan tentang literasi untuk negeri benar-benar menyentuh hati
BalasHapusbu puisinya indah banget langit Juni menyimpan Gema Indonesia Raya sama menyusun letih menjadi makna itunya lancar banget di hati rasanya ikut merinding pas baca bagian upacaranya Terima kasih udah berbagi karya seper makna ini
BalasHapuspuisi ini sangat indah dan menyentuh karena menggambarkan pentingnya literasi dalam membangun masa depan. Pemilihan katanya puitis, pesannya jelas, dan mampu menumbuhkan semangat belajar serta rasa bangga terhadap madrasah
BalasHapusSaya sangat suka bait yang menyebutkan [sebutkan kata/frasa puitisnya]. Sangat indah dan langsung terbayang di kepala saya saat membacanya."
BalasHapusPuisi ini sangat menarik karena menggambarkan suasana literasi di madrasah dengan bahasa yang indah dan penuh makna. Pesan yang saya dapatkan adalah bahwa menulis dan membaca dapat menjadi jalan untuk menyampaikan harapan, perasaan, dan inspirasi
BalasHapusMasyaAllah puisi "Aksara di Pagi Pancasila" karya Anida ini benar-benar dalam dan menginspirasi, Bu Anik Zuroidah. Saya suka sekali dengan gaya bahasanya yang lembut, seperti "aksara diam-diam singgah" dan "lembar-lembar bersayap". Pesan tentang cinta tanah air lewat literasi terasa kuat dan memotivasi, apalagi di bait "negeri besar dibangun oleh pikiran yang hidup". Tugas ini membuat saya lebih sadar bahwa menulis juga bentuk pengabdian untuk negeri
BalasHapusPuisi ini adalah pusi nyang aku suka dan (sebutan kata/frasa puisinya) .
BalasHapusPagi yang disimpan dalam bait...
Gema "Indonesia Raya" masih bergetar sampai ke pelupuk mata.
Sabar menunggu penantian, kata- dalam banget buanik
Langkah kecil, makna besar.
Upacara usai, tapi rasanya masih di dada.
Begitu rupawan sampe dada berdebaran
Ini puisi atau surat cinta bu anik
Makna: Menggambarkan perasaan haru setelah upacara, menunggu pesan mendalam yang menyatukan pikiran.
Diksi "pelupuk mata" & "aksara" nya kuat banget. Sukses selalu buat penulisnya!
Puisi ini seperti surat cinta untuk dunia pendidikan, terutama madrasah. Setiap barisnya mengalir lembut tapi kuat, mengingatkan kita bahwa aksara bukan sekadar huruf, tapi jembatan menuju mimpi, kebanggaan, dan Indonesia yang lebih baik. "Salam literasi" di akhir? Itu bukan penutup… itu ajakan!
BalasHapuspuisi ini sangat menyentuh dan inspiratif. Penulis berhasil menggambarkan bagaimana kegiatan literasi bukan hanya sekadar membaca atau menulis, melainkan sebuah pembelajaran untuk berkembang. Penggunaan diksi seperti "jalan sunyi bernama literasi" memberikan kesan yang indah.
BalasHapusPuisi “Aksara di Pagi Pancasila” menceritakan tentang pengalaman para penulis atau peserta literasi di sebuah madrasah.Teruslah menulis dan berkarya karena tulisan dapat menjadi sarana menyampaikan perasaan dan harapan.Menggunakan pilihan kata yang mudah dipahami pembaca.Beberapa bait kurang memiliki rima atau persajakan yang teratur.
BalasHapus
BalasHapuspuisi tersebut bertema literasi, pendidikan, dan cinta tanah air. Lewat aksara, penulis mengungkapkan rasa syukur sebagai pelajar madrasah yang menjadikan menulis dan membaca sebagai jalan mengabdi untuk sekolah dan bangsa.
Puisi ini bercerita tentang momen bahagia di pagi hari setelah upacara, ketika penulis menerima sebuah surat atau karya tulis. Dari momen itu, puisi menyampaikan bahwa literasi dan menulis punya kekuatan untuk menitipkan rasa, menyatukan perbedaan, dan menumbuhkan kebanggaan. Amanatnya: aksara dan pikiran yang hidup adalah fondasi untuk membangun bangsa dan Indonesia yang lebih baik.
BalasHapusPuisi ini menggambarkan pentingnya budaya literasi di lingkungan madrasah. Melalui kebiasaan membaca, menambah wawasan, dan menerapkan ilmu dalam kehidupan sehari-hari, siswa dapat berkembang menjadi pribadi yang lebih baik. Penulis juga menyampaikan rasa hormat dan terima kasih kepada para guru yang telah membimbing dengan penuh kesabaran, serta mempersembahkan karya ini.
BalasHapusPuisi ini mengangkat tema yang sangat mulia dan relevan, yaitu literasi, nasionalisme, dan dunia pendidikan. Berlatar belakang momen Hari Lahir Pancasila (1 Juni) di lingkungan madrasah (secara spesifik mendedikasikannya untuk MTsN 5 Jombang), puisi ini berhasil mengawinkan semangat kebangsaan ("gema Indonesia Raya", "Merah putih") dengan semangat berkarya lewat tulisan.
BalasHapus
BalasHapusLiterasi mengubah hari biasa menjadi luar biasa. Di madrasah, tulis-baca bukan sekadar kegiatan, melainkan cara menumbuhkan rasa bangga, menyusun makna hidup, dan membangun cinta tanah air. Negeri besar lahir dari pikiran yang hidup dan hati yang memahami nilai luhur.
Titipkan harapan ke hal kecil
BalasHapus"Menyandarkan harap pada lembar-lembar bersayap". Lembar itu bisa buku catatanmu, bisa kerjaanmu hari ini, bisa sikap baik ke temen. Lakukan yang kecil tapi sungguh-sungguh. Karena dari hal kecil yang "bersayap" itu, harapan kita bisa terbang jauh.
Puisi ini mengingatkan kita bahwa literasi bukan sekadar bisa membaca dan menulis, tetapi bagaimana kita memeluk aksara, meresapi maknanya, lalu menebarnya dalam tindakan nyata. Meski langkah kita berbeda-beda, jalan literasi menyatukan kita di Madrasah tercinta untuk tumbuh, bangga, dan bermimpi lebih tinggi
BalasHapusKomentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapusPuisi"jejak kecil Kami persembahkan untuk Indonesia"
BalasHapusDengan membaca sangat banyak sekali pengetahuan,membaca caranya kita menyusun letih jadi Makna dan menulis caranya kita menyusun menerawang awal jalan. Sebab membaca dan menulis itulah yang membawa harapan kita setinggi langit.
“Jalan sunyi bernama literasi
HapusHening menumbuhkan bangga”
Bait ini sangat indah karena menggambarkan bahwa proses belajar, menulis, dan berkarya sering berjalan dalam kesunyian, tetapi dari ketekunan itu lahir rasa bangga dan pencapaian yang bermakna. Singkat, sederhana, namun memiliki makna yang dalam.
_"Menyusun letih menjadi makna"_
BalasHapusIni 5 kata tapi dalem banget. Semua orang pernah capek, tapi nggak semua orang bisa ubah capeknya jadi sesuatu yang berarti. Penyairnya jago ngemas rasa.