PUISI KERINDUAN
UJUNG TANGGA
Oleh Anida
Suara angin menembus daun telinga
Membisikkan cerita di dada
Mengepak cepat terbang perlahan
Menuju ujung tangga
“Panggilkan dia…”
Hingga namamu meluncur
bersama langkah yang hampir tak terdengar
Waktu duduk membatu
Rindu merambat
Mengakar dalam penantian
Hingga mengalir dari menara
Suara teduh membasuh
berlintasan kaki-kaki satu per satu
Mencari satu wajah kerinduan
Di situ bendungan mata memecah
Uluran tangan terasa ringan
Seolah bumi menyambut hujan
setelah kemarau terlalu panjang
Telapak dingin menikam cemas
Pipi dan dahi melekat sambil terpejam
Mengecup seluruh doa yang tersimpan
Senyum pun mekar
tatapan enggan berpaling
Menyudut hingga pintu
Jatuh lagi air mata menelan bayang
seperti tasbih
Luruh satu demi satu
Mata masih terpaku
Mengharap takzim pada ilmu
Surban berselendang di bahu
kopyah bertengger tawaduk
langkahmu begitu teduh
seperti doa
yang menjelma manusia
Menghela napas panjang
Bukan lagi menahan cema
Senyum perlahan merekah
Air mata bukan lagi luka
Renjana pun bermuara
Inilah arti kepastian
Suara dada yang tak bisa didua
Semau telag baik-baik saja
dan masih berjalan
di jalan-Nya
Posting Komentar untuk "PUISI KERINDUAN"