REPORTASE KEGIATAN
GIAT BANTAS: Ketika Upacara Menjadi Panggung Gerakan Literasi di MTsN 5 Jombang
Oleh: Anik Zuroidah
Senin pagi, 21 September 2026, udara di lapangan basket MTsN 5 Jombang terasa begitu segar. Di hadapan ratusan murid yang berbaris rapi dengan balutan seragam putih-biru dan atribut lengkap, serta petugas upacara dari kelas 8-A yang menjalankan tugasnya dengan sangat tertib dan khidmat, saya berdiri membawa sebuah pesan penting yang sudah lama bergemuruh di dalam hati saya: semangat literasi.
Sebagai pembina upacara hari itu, saya tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan untuk berbicara langsung dari hati ke hati dengan anak-anak hebat kita. Pagi itu, saya ingin mengajak mereka melihat perpustakaan bukan sekadar tempat menyimpan buku, melainkan gerbang utama menuju masa depan.
Menghidupkan Budaya Literasi dari Hal Sederhana
Sebelum membahas program baru, saya mengawali amanat dengan memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada para murid. Selama ini, ada satu kebiasaan positif yang sangat membanggakan: mereka terbiasa menuliskan jalannya kegiatan upacara ke dalam buku literasi pribadi.
Bagi saya, ini bukti nyata bahwa literasi jauh melampaui kemampuan mengeja kata. Literasi adalah tentang bagaimana seorang anak belajar mengamati lingkungan, memahami suasana, mengingat rangkaian peristiwa, hingga menuangkannya kembali ke dalam bentuk tulisan yang bermakna.
Memperkenalkan "GIAT BANTAS": Baca Sampai Tuntas!
Dari kebiasaan-kebiasaan baik inilah, kami di madrasah sepakat untuk melangkah lebih jauh. Lahirlah GIAT BANTAS, akronim dari Gerakan Baca Tuntas Buku yang Dipinjam.
Program ini saya gagas bukan tanpa alasan. Seringkali, euforia meminjam buku di perpustakaan hanya berhenti pada tumpukan buku di atas meja atau bahkan terabaikan di dalam tas. Melalui GIAT BANTAS, saya mendorong anak-anak untuk mengubah pola pikir: jangan sekadar meminjam, tetapi bacalah hingga tuntas halaman terakhirnya!
Dengan menuntaskan sebuah buku, murid-murid kita tidak hanya memahami isi bacaan secara utuh, tetapi juga melatih ketekunan, menemukan informasi krusial, memperluas cakrawala berpikir, serta menyerap nilai-nilai luhur untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam kesempatan tersebut, saya juga mengajak para murid untuk menengok jejak langkah para tokoh besar Indonesia maupun dunia. Apa rahasia di balik kesuksesan mereka? Jawabannya sederhana: mereka tidak pernah berhenti belajar dan menjadikan membaca sebagai kebutuhan primer.
Banyak dari tokoh besar tersebut bahkan mendedikasikan ruangan khusus atau perpustakaan pribadi di rumah mereka sebagai tempat berpikir, merenung, dan melahirkan gagasan-gagasan besar. Pesan ini saya sampaikan agar anak-anak sadar bahwa keberhasilan sejati tidak hanya lahir dari bangku kelas semata, melainkan dari luasnya wawasan yang dibangun lewat kemandirian membaca.
“Orang-orang besar terus belajar. Mereka membaca untuk menambah pengetahuan dan wawasan. Karena itu, biasakan membaca dan jangan berhenti belajar,” pesan saya di hadapan seluruh peserta upacara.
DEAR: Mengubah Bacaan Menjadi Tindakan Nyata
Agar semangat ini tidak sekadar menjadi angan-angan, saya turut memperkenalkan formula DEAR (Dengar, Endapkan, Ayo Realisasikan) sebagai panduan praktis bagi murid-murid dalam menyerap setiap informasi:
D — Dengar: Mulailah dengan kerendahan hati untuk menyimak dan mendengarkan informasi serta ilmu baru dengan baik.
E — Endapkan: Jangan telan mentah-mentah. Renungkan dan pahami informasi tersebut agar mengakar menjadi pengetahuan yang bermakna di dalam dada.
A — Ayo: Setelah ilmu didapat, bangkitlah dengan keberanian untuk mencoba dan melangkah.
R — Realisasikan: Wujudkan pengetahuan tersebut menjadi tindakan nyata, perilaku terpuji, atau bahkan sebuah karya yang bermanfaat bagi sesama.
“Dengar, endapkan, ayo realisasikan. Apa yang kalian baca jangan hanya berhenti di halaman buku. Jadikan pengetahuan itu sebagai bekal untuk melakukan kebaikan dan menghasilkan karya,” seru saya, disambut anggukan penuh antusias dari anak-anak.
Upacara bendera hari Senin itu akhirnya ditutup dengan sebuah resonansi semangat yang saya harapkan terus menggema di setiap sudut madrasah. Lapangan basket MTsN 5 Jombang pagi itu telah menjadi saksi lahirnya komitmen baru.
Dari sanalah kami kembali meneriakkan slogan bersama: “Baca sampai tuntas, pahami dengan cerdas, dan realisasikan dalam kehidupan!”
GIAT BANTAS dan DEAR kini resmi menjadi napas baru literasi di MTsN 5 Jombang. Karena membaca bukanlah tentang seberapa cepat kita menghabiskan lembaran kertas, melainkan tentang bagaimana setiap lembar bacaan membentuk karakter, menajamkan pikiran, dan menuntun kita menuju masa depan yang gemilang.

Posting Komentar untuk "REPORTASE KEGIATAN"